Pengamat politik sekaligus dosen sosiologi dari Universitas Gadjah Mada, Dodi Ambardi, menyebut pernyataan Hasto ibarat ‘pedang bermata dua‘ yang diacungkan menjelang akhir masa jabatan Presiden Jokowi sekaligus menjelang Pilpres 2024.
“Dengan kritik itu, mereka semacam menemukan posisi tawar yang baru [terhadap Jokowi], bahwa dukungan PDIP juga kondisional, sifatnya setengah-setengah dukungannya terhadap seorang PDIP.
“Kemudian yang kedua, karena kebetulan Departemen Pertahanan yang dipimpin oleh Prabowo Subianto ikut juga mewujudkan food estate itu, maka kemudian itu bidikan yang kedua kepada Prabowo,“ ujar Dodi.
Menurut dia, pernyataan Hasto menunjukkan hubungan PDIP dengan Presiden Jokowi kini mulai “merenggang“ seiring mereka berusaha untuk meningkatkan elektabilitas bagi calon presiden yang mereka usung, yakni Ganjar Pranowo.
“Pak Jokowi sendiri saya kira terlepas dari berapa besar jumlahnya, berapa menyusutnya itu bisa mempengaruhi pilihan politik pemilih.
“Kalau seandainya sinyal yang diberikan itu mixed atau sinyal ang diberikan itu malah condong ke Prabowo, saya kira itu secara elektoral merugikan dukungan yang akan diperoleh oleh calon Presiden yang diajukan oleh PDIP,“ katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan partai politik belum terlalu kuat dalam mengusung isu lingkungan. Seringkali hal tersebut menjadi fokus pemerintah ataupun lembaga masyarakat yang peduli lingkungan.
Selama ini menurutnya, kepedulian partai terhadap lingkungan cenderung bersifat normatif dan masih harus dibuktikan dengan implementasi saat menjabat.
“Seberapa mereka ingin terlihat punya concern pada hal-hal yang baik. Sikapnya berarti itu defaultnya harus bersikap baik. Tetapi ketika itu sampai pada pemeriksaan, apakah niat dan sikap yang baik itu akan diperjuangkan dalam bentuk kebijakan,” kata Dodi. ***
Dirangkum dari BBCNI