Startup di Indonesia Berdarah-darah Hingga Mati, Salah Strategi ?

Reporter : kaltengdaily
Editor : kaltengdaily
Senin, 6 Juni 2022 15:00WIB
Kondisi Startup di Indonesia

Laporan Khusus (2)

Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menghantui perusahaan rintisan atau startup, padahal ekonomi tengah pulih dari imbas Pandemi Covid-19.

Hal ini terjadi pada perusahaan rintisan global, hingga dalam negeri. Seperti Robinhood yang memangkas 300 karyawan, Netflix juga melakukan PHK 150 pegawai, Cameo memangkas 87 pegawainya.

Sementara dalam negeri dilaporkan tiga perusahaan yang melakukan efisiensi seperti Zenius, Link Aja, hingga JD.ID.

Dampaknya dari taipan, investor, hingga mantan menteri membahas tentang hal ini? Namun sebenarnya apa yang terjadi?

Menurut Managing Plug and Play Indonesia Wesley Harjono, secara global, terjadi penyesuaian kembali atau readjustment dari sisi valuasi market terhadap perusahaan teknologi secara umum di era post-pandemi seperti saat ini.

Di perusahaan teknologi publik, ini mengakibatkan banyak investor menarik investasi mereka. Sementara di dunia startup mengakibatkan appetite investasi berkurang.

“Sehingga startup yang sebagian besar masih bertumpu dari dana hasil fundraising harus melakukan efisiensi yang akhirnya dapat mengakibatkan layoff (pemutusan hubungan kerja/PHK),” ungkapnya.

Sulit Mencari Investor

Beberapa bulan ke depan, startup juga disebut bakal susah mencari investor baru. Y Combinator (YC), salah satu investor terkemuka Silicon Valley, menyebut kinerja saham perusahaan teknologi yang buruk di bursa berdampak signifikan terhadap aktivitas investasi venture capital (VC).

VC akan lebih sulit mengumpulkan uang, sedangkan pihak yang menitipkan modal di VC atau limited partner (LP) akan mengharapkan uang mereka diinvestasikan dengan lebih disiplin.

Dalam situasi seperti ini, VC juga memilih mencadangkan lebih banyak modal untuk mendukung startup berkinerja terbaik yang sahamnya sudah mereka miliki.

Hal ini juga menyebabkan lebih sedikit persaingan antar investor untuk ikut serta dalam putaran pendanaan modal startup. Sehingga valuasi yang ditawarkan ke founder jadi lebih rendah, nilai pendanaan kecil, dan kesepakatan pendanaan pun semakin menipis.

Perlambatan ekonomi ini terutama akan berdampak ke startup dengan skala internasional, bermodal aset fisik besar, margin keuntungan rendah, serta perusahaan lainnya yang butuh modal banyak dan waktu lebih panjang untuk mulai mencetak pendapatan.

YC mengatakan, dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan seperti sekarang, bagi para founder startup, langkah yang aman dilakukan adalah bersiap untuk yang terburuk.

Jika situasi saat ini sama buruknya dengan dua periode perlambatan ekonomi terakhir, cara terbaik bagi startup untuk bertahan adalah dengan menggunakan 30 hari ke depan untuk menyusun strategi memangkas biaya dan memperpanjang runaway.

Bendahara Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo) sekaligus Managing Partner Ideosource Venture Capital, Edward Ismawan Chamdani, mengaku tak kaget melihat startup mulai memilih strategi efisiensi lewat PHK karyawan.

Namun, menurutnya keputusan seperti ini merupakan hal yang biasa terjadi. Kejadian ini juga menjadi dampak dari keputusan bisnis yang belum tepat.

“Saya nggak bilang salah, tapi keputusan bisnis dalam arti apakah bisnis modelnya belum tepat atau target marketnya masih salah, atau ada value change yang mereka fokusnya terlalu lebar,” ujar Edward.

Sementara itu, ada pula Start Up yang akhirnya harus berakhir di Indonesia, seperti, Airy Rooms, Stoqo, Qlapa, dan Sorabel. ***

 

Kategori Terkait

Author Post

Terpopuler

iklan02
iklan02

Pilihan

Terkini

EKONOMI BISNIS

Gubernur Kalteng Salat Ied 1445 H bersama Masyarakat di Bundaran Besar Palangka Raya

Gubernur Sugianto Sabran bersama ribuan masyarakat dengan khidmat mengikuti Salat Idul Fitri Pemerintah Provinsi (Pemprov)…