Elvy Sukaesih, Ratu Abadi

Reporter : kaltengdaily
Editor : kaltengdaily
Selasa, 7 Juni 2022 09:07WIB
Elvy Sukaesih

Kisah Bagian (2)

“Orang akan bilang, seorang penyanyi dia harus punya talenta, harus punya attitude-nya, cara bernyanyi, suara bagus, artikulasi, notasi yang benar, tapi selamanya rasa yang ada dari hati. Kalau penyanyi yang suaranya bagus, Teknik bernyanyi kita bisa belajar, ada sekolahnya. Tapi yang namanya kharisma, nggak ada. Rasanya nggak semua orang bisa,” sambungnya lagi.

“Semoga aku masih bisa jadi kebanggaan. Menjadi panutan untuk generasi dan regenerasi yang akan datang,” tambahnya lagi.

Dari jawaban Umi, sepertinya memang mahkota Ratu Dangdut akan abadi menempel terus di kepalanya. Belum ada yang dia rasa, atau para penggemar dangdut sepakati bersama, layak menjadi penerus. Bisa jadi karena memang belum tertandingi, cengkok dangdutnya yang khas dan mulus, paduan Melayu, India dan Arabian.

Lantas, bagaimana dengan penyanyi dangdut hari ini? Adakah yang menjadi kesukaannya?

“Gimana ya, kan aku bilang penyanyi sekarang dengan macam-macam audisi, saya lihatnya mereka mau sok tinggi-tinggian nada kalau nyanyi. Tapi sekali lagi saya bukannya mau takabur, bahwa anak-anak yang muncul ini sampai di mana sih keunggulannya dia,” kata Umi.

“Kadang saya mau coba tingginya sampai di mana. Nyanyi itu kan ada teknisnya, terdengarnya nada tinggi, padahal nggak. Jenis suara juga mempengaruhi, ada yang suaranya udah tipis itu terdengarnya kayak tinggi, padahal nggak juga. Ada yang suaranya tetap bulat, santai, padahal tinggi juga nadanya,” katanya lagi.

Kecintaan Elvy Sukaesih pada dangdut tidak lagi dapat ditawar-tawar. Bahkan, citra dangdut sebagai musik rakyat kelas bawah yang kadang menjadi bahan ejekan, tidak cukup kuat meredam suara Elvy. Dirinya dan anak-anaknya sempat mengalami perundungan.

“Aku tuh kan terkenalnya kalau nyanyi emang genit. Nah, waktu itu masih sekolah, belasan tahun gitu. Malam nyanyi disuruh sama abah (ayah), terus di situ ada kakak kelas yang nonton. Besoknya di sekolah ramai, kita disoraki ‘biduan… biduan’. Biduan kan saat itu terlalu jelek penilaiannya,” ceritanya.

“Anak kita juga jadi korban. Diejekin ‘dangdut… dangdut…’. Atau dulu Fitria dibilangin sama orang ‘anak pedangdut’ gitu. Sama dia biar kecil kan jagoan, langsung dipegang kerah baju orang yang mengejek,” Elvy tertawa.

Perundungan lainnya juga dialami jika bicara mengenai kontrak dan dinamika perusahaan rekaman. Secara gamblang Umi mengenang dirinya yang seperti pekerja lepas alias freelance dengan tumpukan kontrak yang sering juga tidak dipenuhi isi di dalamnya.

“Dulu tuh label tersebar di mana-mana. Aku sudah kayak freelance, dikontrak buat nyanyi sekian lagu. Dibayar di depan, flat paid, royaltinya nggak dikasih. Padahal lagunya meledak, misalnya lagu Lirikan (Karena Pengalaman). Tapi ya sudah, saya suka banget nyanyi, menikmati. Saya bikin orang senang, biar itu dihitung sebagai pahala.”

Umi Elvy telah memberikan banyak hal untuk musik dangdut nasional, namun apa yang sudah dangdut berikan kepada dirinya selain nama besar dan gelar?

Jika kita berpikir bahwa dangdut hanya memiliki hubungan dengan India, maka harus segera diperbaiki. Karena ternyata, dangdut Elvy Sukaesih sukses menjalin hubungan baik dengan Jepang.

Di luar dangdut, Umi Elvy bicara bagaimana dirinya mengagumi kekuatan cinta. Sehingga membuatnya mampu berdiri sendiri, sepeninggalan mendiang suami, Zaidun Zeth, 20 tahun silam dan memutuskan tidak menikah lagi. ***

 

Kategori Terkait

Author Post

Terpopuler

iklan02
iklan02

Pilihan

Terkini

EKONOMI BISNIS

GAPKI se-Kalimantan Bakal Gelar Borneo Forum ke-7, Simak Jadwal, Lokasi, dan Acaranya

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) dari seluruh cabang provinsi di Pulau Kalimantan bakal menggelar…