Belum Ditemukan Kasus Penyakit Mulut dan Kuku di Kota Palangka Raya

Reporter : kaltengdaily
Editor : kaltengdaily
Sabtu, 14 Mei 2022 08:48WIB
Belum ditemukan Penyakit Mulut dan Kuku terhadap ternak sapi di Kota Palangka Raya.

Saat ini semua daerah, termasuk di Kota Palangka Raya terus melakukan pengawasan terhadap hewan sapi pasca dilaporkan muncul Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) dibeberapa daerah seperti Jawa Timur.

Namun sampai saat ini petugas Dinas Katahanan Pangan dan Pertanian Kota Palangka Raya belum menemukan adanya PMK. Hal ini setelah petugas DKPP melakukan pemeriksaan sapi di RPH dan peternak.

“Kami sudah melakukan penelusuran klinis dibeberapa kandang pemotong dan peternak. Hasilnya belum kita temukan adanya indikasi kasus PMK,” kepala UPT Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono, Jumat (13/5/2022).

Saat ini DKPP terus melakukan berbagai upaya pencegahan agar virus PMK tidak masuk ke Kota Cantik Palangka Raya. Di antaranya pembatasan lalu lintas hewan ternak dan penelusuran klinis.

“Secera kontinyu kami terus melakukan pengawasan di rumah potong hewan (RPH) dan sosialisasi PMK kepada para peternak agar Palangka Raya aman dari virus PMK,” sebutnya.

Eko menjelaskan saat ini kebutuhan daging di Kota Palangka Raya masih disuplai dari luar daerah, sehingga selama terjadi wabah PMK ini maka bagi sapi yang akan didatangkan ke Kota Palangka Raya memiliki surat keterangan bebas PMK dari daerah asal.

Mulai Naik

Dibagian lain, kebutuhan daging sapi di Kota Palangka Raya bakal terancam langka dan mahal pasca daerah pemasok dilakukan lockdown imbas munculnya PMK.

Kepala UPT Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono menjelaskan wabah PMK memiliki dampak sosioekonomi yang luar biasa karena stok sapi potong bisa langka.

Meski sampai saat ini belum ditemukan kasus PMK di Kota Cantik, tapi dampak sosioekonimi tersebut sudah mulai bisa dirasakan oleh masyarakat yakni harga daging sapi sudah naik.

“Harga normal cuma Rp130 ribu per kilo, tapi sekarang harga daging sapi sudah mencapai Rp160 ribu sampai Rp170 ribu,” sebut dr Eko.

Eko menjelaskan selama ini daerah sumber ternak untuk Kota Palangka Raya berasal dari Provinsi Jawa Timur, sedangkan saat ini diberlakukan lockdown. Jadi, sapi tidak bisa dijual ke luar.

“Saat ini andalan sumber ternak untuk kita dari Sulawesi, tapi syaratnya pengiriman sapi harus dilakukan isolasi 14 hari, sehingga membuat pengusaha rugi,” tandasnya. ***

 

Kategori Terkait

Author Post

Terpopuler

iklan02
iklan02

Pilihan

Terkini

EKONOMI BISNIS

Gubernur Kalteng Salat Ied 1445 H bersama Masyarakat di Bundaran Besar Palangka Raya

Gubernur Sugianto Sabran bersama ribuan masyarakat dengan khidmat mengikuti Salat Idul Fitri Pemerintah Provinsi (Pemprov)…