“Alhamdulillah saya lulus dengan capaian sempurna, yakni mendapatkan IPK 4.00 dengan masa studi kurang dari tiga tahun. Ini prestasi yang membanggakan untuk saya dan universitas,” katanya di Palangka Raya seperti dikutip Sabtu (15/11/2025).

Tak hanya menyelesaikan studi dengan cepat, Rendy juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik program Ph.D. Ia menerima Chancellor Award, penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Canselor UTM, Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Baginda Raja Permaisuri Agong Raja Zarith Sofiah.

UTM tempat Rendy mendapatkan doktor sendiri dikenal sebagai universitas berkelas dunia yang berada pada peringkat 153 global dan 25 terbaik di Asia.

“Terlebih penghargaan ini langsung diberikan oleh Ratu Malaysia, tentu menjadi kehormatan besar bagi saya menjadi salah seorang lulusan terbaik,” ucapnya..

Rendy lahir dan besar di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur. Lingkungan kota kecil tidak menghalanginya untuk meraih pendidikan hingga level internasional.

Menempuh pendidikan sarjana di Universitas Brawijaya, magister di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, serta Program Profesi Insinyur di Universitas Lambung Mangkurat sebelum menuntaskan doktoralnya di UTM pada 2025. Sejak 2018, alumni SMAN 1 Sampit ini mengabdi sebagai dosen di Program Studi Kimia FMIPA UPR.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas dedikasi akademik dan kontribusinya selama menempuh pendidikan doktoral di Malaysia. Untuk itu ia mempersembahkan penghargaan ini sebagai hasil kerja keras dari banyaknya dukungan berbagai pihak.

Sepanjang studi, Rendy aktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah. Ia menulis tiga artikel sebagai penulis pertama di jurnal internasional bereputasi Q1/Q2 dengan total impact factor 11,7.

Selain itu, turut menjadi co-author dalam berbagai karya ilmiah lainnya. Prestasinya semakin diperkuat dengan raihan Gold Medal dan Best of the Best Innovation di ITEX 2023, Silver Medal di Inatex 2023, serta MyMembrane Award 2023 dari Malaysia Membrane Society.

Rendy menyampaikan apresiasi kepada tim pembimbingnya, yaitu Prof. Ts. Dr. Mohd Hafiz Dzarfan Othman, ChM. Dr. Mohd Akmali Mokhter, dan Prof. Dr. Deni Shidqi Khaerudini.

“Mereka adalah mentor luar biasa yang mendorong saya berpikir lebih kritis. Tanpa mereka penghargaan dan pencapaian ini tidak akan mudah diraih,” ungkapnya.

Selama studi doktoral, ia menerima beasiswa Program Degree by Research (DBR) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta terlibat dalam proyek penelitian Petronas Research Shd Bhd (PRSB) mengenai teknologi membran desalinasi air laut.

“Harapan saya, pencapaian ini bisa memberi motivasi bagi mahasiswa dan generasi muda Kalimantan Tengah,” kata Rendy. ***