Kisah Mereka yang “Pulang” dari Stadion Kanjuruhan Malang

Reporter : kaltengdaily
Editor : kaltengdaily
Selasa, 4 Oktober 2022 13:20WIB
Suasana di Stadion Kanjuruhan, Malang, saat terjadinya kerusuhan.

Laga antara Arema FC dan Persebaya pada Sabtu (1/10/2022) di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, selesai dalam waktu sekitar dua jam. Namun kerusuhan saat pertandingan berakhir, mengubah hidup Muhammad Alfiansyah (11) untuk selamanya.

Bocah itu kini menjadi yatim piatu. Nama kedua orangtuanya, M Yulianton (40) dan Devi Ratna S (30) masuk dalam daftar ratusan suporter yang menjadi korban meninggal dunia.

Sang paman Doni (40) mengatakan, di hari tragedi Kanjuruhan terjadi, Alfiansyah berlari menghampirinya yang sudah berhasil menyelamatkan diri hingga ke luar stadion. Keponakannya itu tampak ketakutan. Suasana di sekitar Stadion Kanjuruhan pada Sabtu (1/10/2022) malam, sangat mencekam

“Muhammad Alfiansyah ini datang menghampiri. Saya tanya ke mana kedua orangtuamu. Anak itu menjawab orangtuanya masih di dalam stadion,” kata Don.

Menurutnya, Alfian selamat setelah meminta pertolongan pada petugas kepolisian. Sesaat kemudian, Doni melihat tubuh orangtua Alfian yang juga merupakan saudaranya dibawa ke luar stadion. Keduanya dalam kondisi meninggal dunia. Mereka dimakamkan di satu liang lahat.

“Kemungkinan saudara saya ini jatuh dari tangga tribun. Mukanya sudah membiru pucat,” katanya. Dia mengatakan, hal itu terjadi lantaran para suporter berdesak-deskan keluar lantaran tembakan gas air mata.

“Awalnya gas air mata di lapangan dulu. Kemudian (ditembak) ke arah tribun di pintu 12, saya sama lainnya di pintu 14, gas air matanya kena angin kan jadi nyebar,” tutur Doni.

Rizki pulang dengan sepatu baru

Rizki Dwi Yulianto (19), warga Desa Maron, Kecamatan Maron, Probolinggo, Jawa Timur benar-benar “pulang” setelah menyaksikan laga Arema FC versus Persebaya, Sabtu (1/10/2022) malam.

Dia ditemukan meninggal dunia dengan mengenakan sepasang sepatu baru yang telah lama dia impikan. “Dia beli sepatu baru usai diberi uang oleh istri saya. Sepatu baru itu dikenakan Rizky saat menonton Arema FC kemarin,” tutur sang ayah, Bambang Trisila.  

Bambang yang kehilangan putranya masih ingat betul saat itu Rizky berangkat bersama empat temannya mengendarai sepeda motor. Mereka berboncengan menuju Stadion Kanjuruhan untuk mendukung Arema FC berlaga.

Sebelum pergi, Rizky yang merupakan mahasiswa Unej Jember, sempat berpamitan dengan kedua orangtuanya.

Bambang tak menyangka hari itu adalah hari terakhir dia bertemu dengan putranya. “Saat Arema FC bertanding, dia pulang ke rumah untuk berpamitan menonton langsung di Stadion Kanjuruhan,” ujarnya lirih.

Sebelum berangkat, Rizky juga sempat bertukar kaus Arema dengan sang kakak. Namun anaknya ternyata pulang dalam kondisi tak bernyawa. Rizki dimakamkan di TPU desa setempat pada Minggu (2/10/2022) pagi.

Antar sahabat “pulang” dengan ambulans

Mukid tak menyangka harus menemani sahabatnya, Faiqotul Hikmah yang pulang tak bernyawa dengan menggunakan mobil ambulans. Padahal baru beberapa jam lalu, dia masih memboncengkan sahabatnya itu dengan penuh semangat menuju Stadion Kanjuruhan untuk melihat tim sepak bola kesayangan mereka berlaga.

“Saya yang bonceng dia, yang jemput dia ke rumah,” kata Mukid. Dari Jember, Jawa Timur, mereka tiba bersama puluhan suporter lainnya di stadion pada pukul 16.00 WIB.

Namun, Mukid tak bisa masuk lantaran tak memiliki tiket. Sedangkan temannya Faiq bisa menyaksikan pertandingan tim berjuluk Singo Edan langsung dari dalam stadion.

Sebelum pertandingan bubar, Mukid mendengar situasi di dalam stadion memanas. Saat itu hanya Faiq yang ada di pikiran Mukid. Dia pun berupaya mencari sahabatnya tersebut. ***

Kategori Terkait

Author Post

Terpopuler

iklan02
iklan02

Pilihan

Terkini

EKONOMI BISNIS

Komitmen Wujudkan Kalteng Bebas Kabut Asap Tahun 2024

Kepala Pelaksana BPBPK Kalteng Pimpin Apel Aktivasi Posko dan Pos Lapangan Satgas Pengendalian Karhutla Badan…